Minggu, 13 April 2014

Ilmu Pengetahuan, Ilmuwan, dan Masyarakat

Dengan berkembangnya (dan semakin murahnya) Internet, akses pengetahuan menjadi sangat mudah dilakukan, oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun. Sayangnya, kemudahan akses ini sekaligus menjadi suatu hal yang berbahaya: informasi yang salah juga dengan gampang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Penyebaran informasi salah ini, ditambah dengan kurangnya pengertian masyarakat akan ilmu pengetahuan menyebabkan banyak terjadi ketakutan, kebingungan, dan keragu-raguan masyarakat terhadap informasi yang tersebar.
Ilmuwan sendiri, sebagai insan yang bekerja penuh dalam mencari dan menemukan ilmu baru, sangat jarang memberikan penjelasan kepada masyarakat secara gamblang mengenai ilmu yang didalaminya. Di mata masyarakat, ilmuwan adalah sekelompok orang pintar elit yang bekerja siang malam untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru, ataupun membangun teknologi baru. Perlu dicatat juga bahwa hal ini tidak berarti ilmuwan memang adalah sekelompok orang elit yang tidak mau berbagi ilmu, melainkan hal ini hanyalah pandangan masyarakat umum terhadap ilmuwan. Ilmuwan adalah orang pintar. Kata-kata ilmuwan harus didengarkan, dan akan selalu benar. Hal ini sangat tidak baik dan beracun, karena selalin menyebabkan adanya jarak yang besar antara ilmuwan dan masyarakat, pemisahan seperti ini akan menyebabkan masyarakat semakin tidak mengerti mengenai ilmu pengetahuan, dan bagaimana sistem akademik bekerja. Masyarakat yang tidak mengerti hal tersebut akan menjadi masyarakat yang mudah dikontrol oleh otoritas maupun ilmuwan, karena “kata ilmuwan pasti benar”.
Selain itu, kita juga memiliki masalah akan ketidak mengertian masyarakat mengenai cara kerja metode saintifik, yang menjadi dasar utama dari dunia ilmu pengetahuan. Ketidak mengertian masyarakat akan cara kerja ilmu pengetahuan ini menjadikan banyak masyarakat yang sering melakukan kesalahan seperti mempercayai kata-kata profesor bidang Kimia mengenai komputer. Banyak orang yang saya jumpai yang mengharapkan seorang profesor, terlepas dari bidang ilmu apapun, harus mengerti segalanya. Kenapa? Karena dia profesor. Mentalitas ini juga yang akhirnya menyebabkan (atau adalah akibat dari?) pemikiran “ilmuwan pasti benar” yang dibicarakan sebelumnya.
Kita perlu melakukan sesuatu untuk mengubah hal ini. Masyarakat perlu menjadi lebih pintar agar bangsa dapat maju ke depan.

Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Jika anda masih perduli terhadap bangsa ini (seharusnya anda perduli, karena kemajuan bangsa, dalam sisi apapun, akan menyebabkan kehidupan anda, istri, pacar, teman, orang tua, anak, saudara, guru, dan semua orang yang anda sayangi lebih menyenangkan), ada beberapa hal yang dapat dilakukan, misalnya:
  1. Menjadi penghubung antara ilmuwan dan masyarakat melalui media komunikasi ilmu pengetahuan.
    Cara utama untuk menghadapi bajir informasi yang salah tentunya adalah dengan memproduksi informasi yang benar, sebanyak-banyaknya. Informasi dapat disebarkan melalui berbagai media. Dengan membuka jembatan penghubung antara masyarakat dan ilmuwan, diharapkan masyarakat dapat melihat ilmuwan sebagai sumber pembelajaran, bukan komunitas elit orang pintar. Salah satu contoh dari media jenis ini ialah langitselatan.com. Langit selatan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai astronomi, melalu banyak media, seperti majalah, website, seminar, dan pengembangan komunitas.
    Media dan komunitas adalah salah satu kunci utama dalam meningkatkan pengetahuan orang banyak. Melalui media dan komunitas, diharapkan informasi dapat tersebar dengan cepat, sehingga masyarakat dapat saling berbagi ilmu pengetahuan. Masyarakat yang berbagi adalah masyarakat yang belajar.
    Perlu diingat juga bahwa “media” yang dimaksud tidak harus berupa media resmi seperti langitselatan. Jika anda tidak ingin menjalankan media resmi, anda dapat ikut berperan dengan berpartisipasi dalam komunitas, ataupun dengan menulis blog (seperti penulis).
  2. Belajar dan Berbagi.
    Agar dapat membantu menyebarkan informasi yang baik, tentunya kita sendiri harus mengetahui informasi yang baik itu yang seperti apa. Bagaimana caranya? Dengan belajar. Banyak membaca. Membuka wawasan diri sendiri sangat penting sebelum mulai menyebarkan informasi.
    Berbagi sendiri tidak harus selalu dilakukan dengan menulis, seminar, atau menjadi pengajar. Berbagi informasi dan pengetahuan dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana sepertiretweet atau menyebarkan tulisan. Punya buku yang sudah tidak dibaca? Jual dengan harga murah, sumbangkan ke perpustakaan, atau berikan ke teman. Bukankah berbagi itu indah dan ibadah?
  3. Berpikir Kritis dan Berpendapat.
    Satu hal yang saya tidak mengerti dari budaya Indonesia adalah ketakutan berpendapat. Seringkali saya temui orang-orang di lingkungan saya yang menuliskan puluhan kalimat permintaan maaf dan pernyataan bahwa yang diutarkaan hanyalah pendapat sebelum mengatakan pendapatnya. Takut salah.
    Jujur, kita juga tidak dapat menyalahkan mereka yang takut berpendapat. Pernakah anda mengungkapkan pendapat, yang ternyata pendapat anda itu salah? Saya pernah. Dan respon dari orang sekitar (atau pengajar) sangat brutal. Kata-kata seperti “bodoh” atau “gila” atau “tolol” akan diucapkan dan ditempelkan ke anda selamanya. Jangan salah, saya tidak terlalu anti dengan kata-kata kasar (karena terkadang memang kata-kata tersebut diperlukan), tetapi menjadikan hal tersebut sebagai cap permanen untuk satu orang karena satu pendapat sajasangat tidak adil.
    Jika anda seorang pendidik, cobalah untuk selalu mendorong bimbingan anda untuk berpendapat, berpikir kritis, dan berbuat kesalahan. Ketiga hal tersebut sangat penting dalam belajar. Ajarkan ke bimbingan anda bahwa ketiga hal tersebut adalah hal yang pasti harus dilalui dalam belajar. Ajarkan mereka bagaimana cara belajar, bukan hanya apa yang harus dipelajari dalam bidang ilmu anda. Ajarkan cara memancing, bukan berikan ikan, kepada orang yang lapar (tentunya ada juga orang yang tidak mau diajari cara memancing dan hanya ingin terima bersih, tetapi itu adalah pembahasan lain).
    Jika anda bukan pendidik? Jangan dukung mentalitas “tidak boleh berpendapat” atau “penghakiman masal terhadap orang yang berpendapat”. Ketika seorang pengajar mencoba merendahkan kolega anda karena berpendapat, jangan ikut mengejek atau tertawa. Ketika anda berada di posisi yang berpendapat, cobalah untuk tersenyum dan berbesar hati. Jika hari ini gagal, coba lagi di lain hari. Satu hal yang pasti, anda akan menjadi lebih maju daripada guru anda jika modus operasi guru anda ialah “tidak boleh berpendapat”.

Akhir Kata

Jarak antara ilmuwan dan masyarakat sekarang memang masih agak jauh. Kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan ilmuwan, dan juga tidak dapat sepenuhnya menyalahkan masyarakat karena adanya jarak ini. Masyarakat tentunya tidak diharapkan untuk mengerti seluruh ilmu pengetahuan yang ada di dunia, tetapi setidaknya mengerti bagaimana cara kerja ilmu pengetahuan. Pengertian masyarakat akan metode penelitian (dan cara belajar) akan meningkatkan kemampuan berpikir kolektif kita sebagai sebuah bangsa (atau negara), yang pada akhirnya akan memajukan negara kita secara keseluruhan.


Mari kita jalankan peran kita masing-masing, baik yang ilmuwan maupun bukan, untuk saling memajukan bangsa. Kemajuan bangsa pada akhirnya akan memberikan keuntungan bagi kita semua juga, kan? Mentalitas ilmuwan vs masyarakat (atau mentalitas kami vs mereka pada umumnya) juga perlu dihilangkan. Ingat bahwa ilmuwan juga tidak mengetahui banyak hal di luar bidangnya, dan masyarakat sangat mungkin mengetahui banyak hal yang tidak diketahui ilmuwan. Singkatnya, mari sama-sama belajar, karena pada dasarnya kita semua setara, ilmuwan ataupun non-ilmuwan.

HASIL PEMILU 2014 DPRK ACEH BARAT


BAB I SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU TENTANG MASYARAKAT

A. KONSEP DASAR SOSIOLOGI

 

1.       Konsep dan definisi sosiologi

Sosiologi memiliki dua konsep dasar, yaitu sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dan sosiologi sebagai metode. Sebagai ilmu berarti, sosiologi merupakan kumpulan  pengetahuan mengenai kajian masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis dan logis. Sebagai metode berarti  sosiologi merupakan cara-cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggjawabkan secara ilmiah.

Sosiologi berasal dari kata socious(bahasa Latin = Teman) danlogos (bahasa Yunani = kata atau pembicaraan). Jadi secara harfiah, sosiologi berart berbicara mengenai masyarakat.
Ada beberapa definisi sosiologi   menurut para ahli :
a.         Auguste comte berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manuasia seebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Jadi, sosiologi mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi, lembaga-lembaga, dan peradaban.
b.        William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff mengemukakan bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial, dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
c.         Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dalam kelompok.
d.        J.A.A. Van Doorn dan C.J. Lammars mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
e.        Selo Soemardji dan Soelaiman Soemardi menyatakan bahwa sosologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial.

2.       Sifat  Hakikat Sosiologi
Sifat-sifat hakikat sosiologi, antara lain sebagai berikut :
a.         Sosiologi termasuk rumpun ilmu sosial, bukan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu kerohanian.
b.         Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri dengan apa yang terjadi dan bukan pada apa yang seharusnya terjadi.
c.          Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science), bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science).
d.         Sosiologi  merutpakan ilmu pengetahuan yang abstrak, artinya yang diperhatikan adalah pola dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
e.         Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian dan pola-pola umum.
f.          Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang rasional, terkait dengan metode yang digunakannya.
g.         Sosiologi termasuk ilmuy pengetahuan umum, bukan ilmu pengetahuan yang khusus. Artinya, sosiologi mengamati dan mempelajari gejala-gejala umum yang ada pada setiap inetraksi dalam masyarakat secara empiris.
Sebagai ilmu sosial yang objek kajiannya masyarakat, sosiologi mempunyai  ciri-ciri utama sebagai berikut :
a.       Sosiologi bersifat empiris, karena didasarkan pada pengamatan (observasi) terhadap kenyataan-kenyataan sosial dan hasilnya tidak spekulatif.
b.      Sosiologi bersifat teoritis, artinya sosiologi selalu berusaha untuk menyusun kesimpulan dari hasil-hasil observasi untuk menghasilkan teori keilmuan.
c.       Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori-teori dalam sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Kemudian diperbaiki, diperluas, serta diperdalam.
d.      Sosiologi bersifat nonetis, artinya sosiologi tidak mempersoalkan baik buruknya fakta, tetapi menjelaskan fakta tersebut secara analitis dan apa adanya.

3                    3.   Objek  studi sosiologi
Objek studi sosiologi adalah masyarakat, dengan menyoroti hubungan antarmanusia dan proses sebab-akibat yang timbul dari hubungan tersebut. Selain itu, sosiologi dapat dikaji dengan perspektif lingkungan. Dalam perspketif tersebut, secara kolektif dapat dikategorikan dalam tiga tahapan sosiologi , yaitu sifat dasar dan perkembangan manusia, interaksi manusia dan hubungannya, serta penyesuaian secara bersama dengan lingkungan. Jadi, dalam sosiologi juga terdapat kajian tentang ekologi manusia.
Ekologi manusia merupakan studi terhadap bagaimana manusia berinteraksi dengan alam bukan sebagai makhluk biologis, tetapi sabagai makhluk sosial.

4.  Kegunaan Sosiologi
Sebagai ilmu pengetahuan yang objeknya masyarakat, sosiologi memiliki empat macam kegunaan, yaitu :
           1)    Perencanaan sosial
Perencanaan sosial adalah kegiatan untuk mempersiapkan masa depan kehidupan masyarakat secara ilmiah dan bertujuan untuk mengatasi berbagai hambatan. Perencanaan sosial bersifat preventif. Oleh karena itu, kegiatannya berupa pengarahan-pengarahan dan bimbingan sosial mengenai cara-cara hidup masyarakat yang lebih baik.
            2)    Penelitian
Dalam bidang penelitian masyarakat, sosiologi memiliki kelebihan dibandingkan ilmu-ilmu yang lain karena :
a.    Memahami simbol kata-kata, kode, serta berbagai istilah yang digunakan oleh masyarakat sebagai objek penelitian empiris.
b.    Pemahaman terhadap  pola-pola tingkah laku manusia dalam masyarakat.
c.     Kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai fenomena sosial yang timbul dalam kehidupan masyarakat, terlepas dari prasangka-prasangka subjektif.
d.    Kemampuan melihat kecenderungan-kecenderungan arah perubahan pola tingkah anggota masyarakat atas sebab-sebab tertentu.
e.    Kehati-hatian dalam menjaga pemikiran yang rasional sehingga tidak terjebak dalam pola pikir yang tidak jelas.
            3)    Pembangunan
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan di segala bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu. Proses pembangunan terutama ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat, baik secara material maupun secara spiritual.
Dalam usaha-usaha pembangunan, sosiologi berguna dalam mengadakan identifikasi berbagai kebutuhan masyarakat. Kemudian selanjutnya sosiologi berguna dalam mengidentifikasi kekuatan dalam masyarakat, hal itu dapat dilakukan dengan cara mengadakan penelitian terhadap pola-pola kekuasaan dan wewenang yang ada dalam masyarakat. Dalam tahap evaluasi, diadakan analisis terhadap efek pembangunan. Kerena keberhasilan suatu pembangunan hanya dapat dinilai melalui evaluasi dan dapat diidentifikasi tentang adanya kekurangan, kemacetan, kemunduran bahkan mungkin kemerosotan.
            4)    Pemecahan masalah sosial
Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur sosial yang membahayakan kehidupan masyarakat. Sosiologi menyelidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat dengan maksud untuk menemukan dan menafsirkan kenyataan-kenyataan kehidupan kemasyarakatan.

B.        METODE-METODE SOSIOLOGI
Metode merupakan cara kerja yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun metode-metode yang sering digunakan dalam penelitian sosiologi adalah sebagai berikut :
1.         Metode statistk
Metode ini banyak dipakai untuk menunjukan hubungan atau pengaruh kausalitas serta memperkecil prasangka pribadi atau sepihak. Penerapan metode ini yang paling sederhana adalah teknik enumerasi (penghitungan). Jawaban pertanyaan responden disusun dalam bentuk tabel sehingga dikeahui hasilnya secara kauntitatif.
2.         Metode eksperimen (percobaan)
Metode ini dilakukan terhadap dua kelompok. Metode ini membandingkan hasil percobaan terhadap kedua kelompok tersebut. Ada dua macam metode eksperimen, yaitu eksperimen dan eksperimen lapangan.
3.         Metode induktif dan deduktif
Metode induktif adalah metode yang diguetnakan untuk memperoleh kaidah umum dengan mempelajari gejala yang khusus. Sedangkan metode deduktif adalah metode yang digunakan untuk memperoleh kaidah khusus dengan mempelajari gejala yang umum.
4.         Metode studi kasus
Metode ini digunakan untuk meneliti kebenaran peristiwa-peristiwa tertentu.
5.         Metode survei lapangan
Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang hanya ada pada kehidupan masyarakat secara langsung. Data diperoleh melalui angket, wawancara, ataupun observasi secara langsung.
6.         Metode pertisipasi
Metode ini digunakan untuk mengadakan penelitian mendalam tentang kehidupan kelompok. Peneliti berbaur dalam kehidupan kelompok sambil melakukan pengamatan atau kegiatan penelitiannya tanpa mengungkapkan identitas sebagai peneliti.
7.         Metode empiris dan rasionalistis
Metode empiris menyandarkan diri pada fakta yang ada dalam masyarakat melalui penelitian. Metode rasionalistis mengutamakan pemikiran sehat untuk mencapai pengertian tentang masalah-masalah kemasyarakatan.
8.         Metode fungsionalisme
Metode ini bertujuan untuk meneliti kegunaan lembaga-lembaga kemasyarakatan  dan struktur sosial dalam masyarakat.
9.         Metode studi pustaka
Metode studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengambil data atau keterangan dari buku-buku literatur di perpustakaan.

C.        KONSEP-KONSEP TENTANG REALITAS SOSIAL BUDAYA
Realitas sosial budaya merupakan kenyataan-kenyataan sosial budaya di sekitar lingkungan masyarakat tertentu. Kenyataan sosial budaya ini terjadi karena adanya pola-pola hubungan yang terjadi dalam masyarakat. Pola-pola hubungan tersebut dapat mencapai kestabilan tetapi dapat juga menimbulkan konflik.
Ada beberapa realitas sosial budaya yang terdapat di masyarakat, antara lain :
1.       Masyarakat
Masyarakat adalah sekumpulan manusia  yang menempati wilayah tertentu dan membina kehidupan bersama dalam berbagai aspek kehidupan atas dasar norma sosial tertentu dalam waktu yang cukup lama.
Konsep masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi erat hubungannya dengan lingkungan. Hal tersebut berarti bahwa ketika seseorang berinteraksi dengan sesamanya, maka lingkungan menjadi faktor yang mempengaruhi sikap-sikap, perasaan, perlakuan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungannya.
2.       Interaksi sosial
Interaksi sosial adalah hubungan dan pengaruh timbal balik antarindividu,  antara individu dan kelompok, serta antar kelompok
3.       Status dan peran
Status merupakan posisi seseorang dalam masyarakat dan bersifat statis. Sedangkan peran adalah pola tindakan atau perilaku dari orang yang memiliki status tertentu. Peran merupakan aspek masyarakat yang bersifat dinamis.
Status dan peran tidak dapat dipisahkan , keduanya saling beriingan. Misalnya, status seorang sultan mengharusakan ia berperan sebagai tokoh panutan masyarakat.
4.       Nilai
Nilai adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh anggota masyarakat dan merupakan sesuatu yang diidam-idamkan. Pergeseran nilai akan mempengaruhi kebiasaan (folkways) dan tata kelakuan (mores).
5.       Norma
Norma merupakan wujud konkret dari nilai sosial. Norma dibuat untuk melaksanakan nilai-nila yang ada dalam masyarakat yang telah dianggap baik dan benar. Norma biasanya disertai dengan sanksi, agar norma dipatuhi oleh semua warga masyarakat.
Ada empat macam norma yang ada dalam masyarakat, antara lain :
a.    Norma agama, yaitu petunjuk hidup yang berupa perintah dan larangan yang berasal dari Tuhan.
b.    Norma adat atau kebiasaan, yaitu norma yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan hidup yang terjadi secara berulang-ulang karena dibakukan dan diyakini sebagai sesuatu yang baik.
c.     Norma kesusilaan atau kesopanan, yaitu tuntutan perilaku yang harus dipatuhi oleh setiap warga masyarakat. Norma ini memiliki substansi pokok mengenai penghargaan terhadap harkat dan martabat orang lain.
d.    Norma hukum, yaitu norma masyarakat yang dibuat oleh lembaga-lembaga berwenang seperti MPR, DPR, dan pemerintah. Norma hukum lebih bersifat memaksa daripada norma-norma yang lainnya.

6.       Lembaga sosial (pranata sosial)
Lembaga merupakan suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan yang oleh masyarakat dianggap penting. Ada lima lembaga dasar yang terdapat dalam masyarakat, yaitu lembaga keluarga, lembaga keagamaan, lembaga pemerintahan, lembaga perekonomian, dan lembaga pendidikan.
7.       Sosialisasi
Sosialisasi merupakan proses individu belajar berinteraksi di tengah-tengah masyarakat. Melalui proses sosialisasi, seorang individu akan akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-norma yang akan membekalinya dalam proses pergaulan.
8.       Perilaku menyimpang
Perilaku menyimpang merupakan bentuk perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku menyimapang, yaitu :
a.    Tidak berfungsinya aparat penegak hukum.
b.    Memburuknya situasi sosial budaya masyarakat.
c.     Tidak berhasilnya proses pewarisan budaya.
d.    Proses sosialisasi yang tidak sempurna atau tidak lengkap, serta karena proses sosialisasi terhadap sub-subkebudayaan yang menyimpang.
9.       Pengendalian sosial
Setiap masyarkat menginginkan adanya suatu ketertiban agar tata hubungan antarwarga masyarakat dapat berjalan secara tertib dan lancar. Oleh karena itu masyarakat menciptakan norma sebagai pedoman perilaku yang pelaksanaannya memerlukan suatu bentuk pegawasan dan pengendalian. Usaha yang dilakukan agar masyarakat berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku disebut pengendalian sosial.
10.   Proses sosial
Proses sosial merupakan proses interaksi dan komunikasi antarkomponen masyarakat dari waktu ke waktu hingga mewujudkan suatu perubahan. Dalam suatu proses sosial terdapat komponen-komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu :
a.    Struktur sosial, yaitu susunan masyarakat secara komprehensif yang menyangkut individu-individu, tata nilai, organisasi sosial, dan struktur budayanya. Struktur sosial merupakan suatu bangunan masyarakat yang abstrak dan menentukan bagaimana corak gerakan masyarakat itu menuju suatu perubahan.
b.    Interaksi sosial, yaitu keseluruhan jalinan antarwarga masyarakat,baik secara individu maupun secara kelompok dalam menyelenggarakan kehidupannya.
c.     Struktur alam lingkungan yang meliputi letak, bentang alam, iklim, flora dan fauna.
11.   Perubahan sosial budaya
Perubahan sosial budaya adalah perubahan struktur sosial dan budaya akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsurnya sehingga memunculkan suatu corak sosial budaya baru yang dianggap ideal.
12.   Kebudayaan
Kebudayaan adalah semua hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti luas, kebudayaan merupakan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini yang keberadaannya diciptakan oleh manusia. Kebudayaan, dapat berbentuk :
a.    Artefak, yaitu benda-benda yang merupakan hasil karya manusia.
b.    Sistem aktivitas, seperti berbagai jenis tarian, ritual, serta kegiatan sosial lainnya.
c.     Sistem ide atau gagasan, yaitu suatu pola pikir yang ada dalam pikiran manusia. Ide merupakan bentuk budaya abstrak yang mengawali suatu perilaku ataupun hasil perilaku bagi setiap bangsa.

D.        HUBUNGAN ANTARA BERBAGAI KONSEP REALITAS SOSIAL BUDAYA
1.    Masyarakat dan kebudayaan
Berbicara mengenai masyarakat tentu tak akan lepas dari konsep budaya, karena kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh masyarakat. Dalam proses pergaulannya,masyarakat akan menghasilkan budaya yang selanjutnya akan dipakai sebagai sarana penyelenggaraan kehidupan bersama. Oleh sebab itu, konsep masyarakat dan konsep kebudayaan  merupakan dua hal yang senantiasa berkaitan dan membentuk suatu sistem
2.    Masyarakat dan interaksi sosial
Masyarakat selalu melakukan interaksi sosial, baik antarindividu, antara individu dan kelompok, maupun antarkelompok. Karena dalam kehidupannya manusia senantiasa membutuhkan pertolongan manusia yang lain (zoon politicon). Jadi masyarakat dan interaksi sosial tidak dapat dipisahkan.
3.    Status dan peranan
Status sosial (kedudukan) merupakan posisi seseorang di tengah-tengah masyarakat. Status dan peranan selalu berkaitan. Peranan merupakan perilaku yang diharapkan dari orang yang memiliki status tertentu.
4.    Nilai, norma, dan lembaga sosial
Untuk menciptakan keteraturan dalam masyarakat dibutuhkan suatu perangkat pengaturan tertib sosial yang dinamakan pranata sosial. Dalam pranata sosial, norma-norma dan nilai-nilai akan menjadi sebuah pedoman berperilaku dalam masyarakat. Pranata sosial ini dibuat oleh lembaga sosial yang ada dalam masyarakat. Lembaga sosial dapat mengontrol apakah suatu norma berjalan dengan baik atau sebaliknya.
5.    Perilaku menyimpang dan pengendalian sosial
Adanya perilaku menyimpang akan mengancam keseimbangan dalam masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan pengendalian sosial. dengan pengendalian sosial yang efektif, maka  perilaku menyimpang akan mengalami penurunan.

E.         DATA TENTANG REALITAS SOSIAL DAN PERMAHAN SOSIAL
Di bawah ini ada beberapa fenomena sosial yang ada di masyarakat berdasarkan hasil penelitian dan data statistik yang perlu mendapat perhatian
1.    Penurunan kualitas moral (demoralisasi)
Demoralisasi merupakan suatu keadaan dimana kualitas moral warga masyarakat mengalami penurunan. Demoralisasi berhubungan dengan rendahnya standar moral dan penetapan nilai serta norma dalam masyarakat.

2.    Terorisme

Terorisme adalah tindakan yang membuat kerusakan-kerusakan di dalam masyarakat dengan tujuan menyebarkan rasa takut serta mengancam keselamatan publik.
3.    Merebaknya kasus perdagangan anak
4.    Meningkatnya angka kemiskinan
5.    Kenakalan remaja (delinkuensi)