Minggu, 13 April 2014

ILMU MASYARAKAT


‘Ilmu Masyarakat’ adalah proyeksi. Dan seribu-satu macam manusia tumplek-blek dalam studio. Ada yang menjadi proyektor, ada yang menjadi layar, ada pula yang menjadi penonton.
Yang menjadi penonton pun bermacam ragam. Ada yang berdiri dan sudah barang tentu ada yang duduk. Yang berdiri terkesan lebih agresif; lebih menuntut. Mereka kadang mengacungkan jari, dan tak jarang pula mereka berteriak. Sementara yang duduk terkesan lebih menurut. Mereka yang duduk punya ekspresi rupa-rupa: ada yang duduk manis, ada yang duduk masam.
‘Ilmu Masyarakat’ adalah ilmu yang paling susah dicerna. Karena manusia sudah kadung lebih suka memilih mencerna sate ayam ketimbang memperhatikan perilaku ayam di pagi hari sebelum si ayam ditusuk-tusuk jadi santapan.
Sebab itulah, ‘Ilmu Masyarakat’ bisa baik bisa juga sebaliknya. Tergantung tiap manusia yang menjadi isi dari masyarakat. Sebagai contoh: dalam ‘ilmu masyarakat’ ada semacam tuntunan ‘gaji pertama dihabiskan untuk orang lain’. Orang bilang itu untuk syukuran.
‘Ilmu Masyarakat’ yang demikian baik. Karena mampu memandang jauh ke dalam sifat dasar manusia: bahwa setelah gaji pertama, tak ada lagi gaji lain tersisa untuk orang lain.
Hanya saja, jika kemudian ‘gaji pertama’ habis untuk orang lain yang notabene sudah kenyang itu jelas tidak bisa disebut sebagai ‘bersyukur’  dan hanya akan jatuh pada 
peristiwa pesta-pora.
Sekarang, untuk kalian semua yang tahun depan jadi pegawai negeri, beranikah kalian menjawab orang-orang yang mengajak pesta-pora demi menghabiskan gaji pertama dengan jawaban: “saya akan menghabiskan gaji pertama untuk mereka yang lapar dan yang tidak saya kenal.”
Jika kalian berani, itu artinya kalian bukan lagi menjadi proyektor, layar, lebih-lebih penonton. Melainkan menjadi sorot cahaya dalam studio yang gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar